بسم الله الرحمن الرحيم

ADAB-ADAB MEMBACA AL QUR-AN

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Al Qur-an adalah kalamullah yang berbeda dengan kitab-kitab lain buatan manusia. Oleh karena itu membacanya pun harus mengikuti adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya adalah

  1. Mengikhlaskan niat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala , Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Az Zumar 2-3

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ …

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.  Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).

Maksudnya, sembahlah Dia semata, sungguh tiada suatu amal pun yang dapat diterima kecuali yang dikerjakan oleh pelakunya dengan niat ikhlas hanya karena Allah semata, Dan tiada sekutu bagi-Nya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَلُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ،

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan dari apa yang diniatkannya. …’” HR. Bukhari & Muslim

Imam an-Nawawi rahimahullah  berkata: “Hendaknya jangan berniat dengannya untuk medapatkan dunia baik yang berupa harta benda, kepemimpinan, kewibawaan, keunggulan diantara kawan-kawan, pujian manusia ataupun yang semisalnya.[1]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعَلَّمُوا القُرْآنَ وَسَلُوا بِهِ الْجَنَّةَ، قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَهُ قَوْمٌ يَسْأَلُونَ بِهِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْقُرْآنَ يَتَعَلَّمُهُ ثَلاَثَةٌ: رَجُلٌ يُبَاهِي بِهِ وَرَجُلٌ يَسْتَأْكِلُ بِهِ، وَرَجُلٌ يَقْرَأُ لِلَّـهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Pelajarilah Al Qur-an dan mintalah Surga dengannya, sebelum (datangnya) suatu kaum yang mempelajarinya untuk mencari dunia. Sesungguhnya Al Qur-an dipelajari orang karena tiga hal: untuk berbangga-bangga dengannya, mencari makan dengannya, dan membacanya karena Allah I[2]

  1. Suci dari hadats besar dan hadats kecil

Dari al-Muhajir bin Qunfudz berkata : Bahwasanya dia mendatangi Nabi  dalam keadaan sedang buang air kecil. Kemudian dia mengucapkan salam kepada beliau, tetapi beliau tidak menjawabnya sampai selesai berwudhu. Lantas beliau menjelaskan udzurnya seraya bekata:

إِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّـهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ. أَوْ قَالَ : عَلىَ طَهَارَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah (berdzikir kepada Allah) melainkan dalam keadaan suci.”

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah   tidak suka menyebut Allah  dalam keadaan tidak suci. Maka dalam membaca Al Qur-anul Karim, hal tersebut lebih ditekankan. Tetapi jika seseorang membaca dalam keadaan berhadats, yang demikian tetap diperbolehkan.

Imam an-Nawawi  berkata:  “Jika seseorang membaca dalam keadaan berhadats, maka hal itu diperbolehkan menurut ijma (kesepakatan) kaum muslimin. Hadits-hadits tentangnya banyak dan masyhur. Imam Al Haramain berkata “Tidaklah dikatakan bahwa orang tersebut melakukan hal yang makruh, tetapi dia meninggalkan sesuatu yang lebih utama.[3]

  1. Memiliki waktu dan tempat yang cocok

Membaca Al Qur-an dibolehkan kapanpun kita mau, akan tetapi ada waktu-waktu yang perlu diperhatikan oleh kita karena lebih diharapkan untuk mendapatkan rahmat Allah. Waktu yang paling utama adalah ketika shalat (setelah membaca surah Al Fatihah), kemudian membaca pada malam hari, kemudian pada  sepertiga malam terakhir, kemudian sewaktu fajar, kemudian ketika shubuh, dan di waktu siang. [4]

Begitu juga disukai membaca Al Qur-an di tempat yang bersih, jauh dari hal-hal yang bisa mengganggu tilawah, dan sebaik-baik tempat membaca Al Qur-an adalah di masjid.

  1. Menghadap Kiblat

Dianjurkan bagi qari untuk menghadap kiblat. Kiblat adalah arah yang paling utama. Orang-orang shalih menghadap kearah tersebut ketika mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala

… فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ …

“…Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…” QS. Al Baqarah : 144

Imam an-nawawi berkata: “keadaan ini paling sempurna…”

  1. Bersiwak

Disunnahkan bagi qari untuk bersiwak, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu pembersih mulut dan mendatangkan ridha Rabb.”[5]

Ali bin Abu Thalib  berkata : Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan bagi Al Qur-an, maka sucikanlah dengan siwak[6]

  1. Membaca Istiadzah dan Basmalah

Disyariatkan bagi qari membaca istiadzah sebelum melakukan tilawah, sebagai bentuk pengamalan firman Allah Ta’ala, QS. An Nahl : 98

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

Adapun membaca Basmalah, Dari Anas berkata: “ Pada suatu hari Rasulullah berada ditengah-tengah kita, lalu beliau tiba-tiba pingsan. Tidak lama kemudian, beliau mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya: ‘Apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab:

أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُوْرَةٌ، فَقَرَأَ : بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

Tadi telah diturunkan kepadaku sebuah surah, ‘lantas beliau membaca: Bismillahirrahmanirrahim, ‘Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka lakukanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).’” QS. Al Kautsar  1-3

Adapun lafadz Basmalah, Allah Ta’ala berfirman QS. An Naml : 30

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣٠

Sesungguhnya surah itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

  1. Membaca dengan tartil

Hendaknya membaca Al Qur-an dengan tartil. Para ulama sepakat akan dianjurkannya hal ini. Allah Ta’ala berfirman   QS. Al Muzzammil : 4

… وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا  ٤

“…Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.”

Diriwayatkan dari Ummu Salamah   bahwa ia mendeskripsikan bacaan Al Qur-an Nabi   sebagai bacaan yang jelas huruf per hurufnya HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i

Para ulama berkata: “Bacaan tartil itu mustahab untuk tadabbur ataupun lainnya.”

Allah Ta’ala berfirman QS. An Nisa : 82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ …  ٨٢

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? …”

Mereka berkata: “Oleh karena itu, bacaan tartil dianjurkan bagi orang non-arab yang tidak memahami maknanya karena hal itu lebih menghormati dan memuliakan Al Qur-an serta lebih mempengaruhi hati.[7]

  1. Sujud Tilawah seusai membaca ayat sajdah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda tentang keutamaan sujud tilawah:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجَدَةَ فَسَجَدَ ، اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ : يَاوَيْلَهُ. (وَفِي رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ : يَاوَيْلِي) أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ. وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Apabila anak Adam membaca ayat sajdah lalu ia sujud maka syaithan menyingkir sambil menangis seraya berkata: ‘Celakalah dia’ (dalam riwayat Abu Kuraib,  syaitan berkata : ‘Celakalah aku,’)  Anak Adam diperintahkan untuk sujud lalu dia sujud maka baginya Surga, sedangkan aku diperintah untuk sujud tetapi aku enggan maka bagiku Neraka.” HR Muslim dari Abu Hurairah

Secara mujmal (global), sujud tilawah dalam Al Qur’an ada pada 15 Ayat

Dan diantara bacaan sujud tilawah sebagai berikut:

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

“Wajahku bersujud kepada Allah yang menciptakannya dan membuka (memberikan) pendengaran dan penglihatannya, dengan daya dan upaya dan kekuatan-Nya.” HR Abu Dawud dari Aisyah

 

Demikian beberapa poin-poin inti didalam mengetahui adab-adab membaca Al Qur-an

 

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

 

[1] At Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran (hal 29-30)

[2] As-Silsilah Ash-Shahihah (no. 285) karya Syaikh al-Albani

[3] Lihat At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur-an karya Imam an-Nawawi (hal. 97)

[4] Lihat Al Itqan fi Ulumil Qur-an karya Al Hafidz Jalaludin As Suyuthi

[5] Shahih An Nasai dari Aisyah

[6] HR. Ibnu Majah

[7] Lihat At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur-an karya Imam an-Nawawi (hal. 51)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here