بسم الله الرحمن الرحيم

ADAB-ADAB BAGI PENGAJAR AL QUR’AN

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram Mengajar adalah profesi yang mulia, Dia tidak dapat disamai oleh profesi lain dalam hal keutamaan dan kedudukan. Terlebih mengajarkan Al Qur’an, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR Al Bukhari dari shahabat Utsman bin Affan)

Tugas seorang pengajar Al Qur’an tidak hanya sebatas menyimak hafalan atau hanya memperbaiki bacaan kepada anak didiknya saja, bahkan ia merupakan tugas yang berat dan sulit (tetapi akan terasa mudah bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala). Tugas tersebut menuntut seorang pengajar bersifat sabar, amanah, tulus, dan mengayomi yang di bawahnya dan Hendaknya seorang pengajar yang baik itu, meneladani cara mengajar ala Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliaulah suri teladan bagi umat manusia. Allah Ta’ala berfirman di dalam QS. Al Ahzab : 21

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ …  ٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu …”.

Ikhwanil Kiram, berikut beberapa adab-adab seorang pengajar Al Qur’an yang saya ringkas dari kitab At Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi:

  1. Berniat mengharap ridha Allah semata

Pertama sekali yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengajar Al Qur’an adalah meniatkan aktivitasnya ini dalam rangka mencari ridha Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman QS. Al Bayyinah : 5

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ  ٥

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.

Kemudian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam  bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

  “Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

إِنَّمَا يَحْفَظُ الرَّجُلُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ

“seseorang itu akan menghafal sesuai dengan kadar niatnya.”

Dan dalam riwayat lain:

إِنَّمَا يُعْطَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ نِيَّاتِهِمْ

“Orang itu diberi sesuai dengan apa yang diniatkan.”

  1. Tidak Mengharap Hasil Duniawi

Hendaknya seorang pengajar tidak meniatkan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara, baik berupa harta, jabatan, kedudukan yang tinggi, sanjungan manusia, atau semacamnya. Kemudian, hendaknya seorang muqri’i, dia tidak menodai bacaannya dengan niat mencari kemurahan hati yang akan ia peroleh dari orang yang diajarnya, baik itu berupa harta, pelayanan, atau dalam bentuk hadiah yang mana tak akan ia peroleh jika ia belum mengajarkan bacaan Al Qur’an

Allah Ta’ala berfirman di dalam QS. Asy Syura : 20

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ  ٢٠

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”

  1. Waspada Sifat Sombong

Hendaklah orang yang di hatinya memiliki sifat sombong agar berhati-hati, yang disebabkan karena banyak orang yang belajar kepadanya dan silih berganti datang menemuinya. Waspadai juga timbulnya rasa tidak senang jika orang yang biasa belajar padanya belajar qiraah pada orang lain. Ini adalah ujian yang biasa menimpa para guru yang belum mewaspadai sifat diatas, yang mana hal ini menunjukkan bukti jelas keadaan niat dan batinnya yang buruk.

  1. Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji

Seorang guru seyogyanya menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan yang dituntunkan oleh syariat, yaitu sikap dan sifat terpuji lagi diridhai

  1. Memperlakukan Murid dengan Baik

Abu Harun Al-Abdi berkata: “kami pernah mendatangi Abu Sa’id Al Khudri  dan saat itu ia mengatakan “selamat datang wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam” (kepada para murid-muridnya)

  1. Menasehati Murid

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Agama itu nasihat.” Para Sahabat bertanya: ‘Bagi siapa?’ Rasulullah menjawab ‘Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya.” HR Muslim

Ikhwanil Kiram, salah satu wujud lillah dan li kitabihi adalah menghormati penghafal Al Qur’an dan orang yang mempelajarinya, membimbingnya menuju maslahat, membantunya belajar dengan sarana yang memungkinkan, menyenangkan hati orang yang sedang menuntut ilmu, lembut, dan hendaknya guru memiliki sikap toleran dalam mengajar dan memotivasi pelajar untuk belajar.

  1. Memperlakukan Murid dengan Rendah Hati

Hendaklah tidak mengagungkan muridnya, akan tetapi bersikap lembut dan rendah hati pada mereka.

  1. Mendidik Murid agar Memiliki Adab yang Mulia

Hendaknya guru mendidik murid dengan adab-adab mulia secara bertahap. Mengajarinya untuk berprilaku yang diridhai, melatih dirinya melakukan amalan-amalan secara sembunyi-sembunyi, membiasakannya mempertahankan amalan-amalan yang tampak maupun tidak, memotivasinya agar ucapan dan perbuatan sehari-hari selalu disertai keikhlasan dan kejujuran, niat yang lurus, serta merasa selalu diawasi oleh Allah disetiap waktu.

  1. Bersemangat Mengajar

Seorang pengajar diharapkan bersemangat dalam mengajar, mengutamakan pekerjaan mengajar daripada kepentingan duniawi yang tidak begitu mendesak. Hendaknya dia tidak menyibukkan hatinya dengan hal lain ketika tengah mengajar. Tidak kenal Lelah didalam memahamkan murid dan menjelaskan apa yang ingin mereka ketahui, serta menyuruhnya untuk mengulang hafalannya.

  1. Mendahulukan Giliran yang Lebih Dahulu Datang

Jika muridnya banyak, hendaknya guru mendahulukan giliran murid yang pertama kali datang dan seterusnya. Jika yang pertama rela didahului maka tidak mengapa ia mendahulukan yang lain.

  1. Niat Lillahi Ta’ala

Para ulama berkata “jangan sampai menolak mengajar seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.” Adapun Sufyan dan lainnya mengatakan “Menuntut ilmunya seseorang itu sudah merupakan niat baik.” Kemudian ulama juga berkata “ Awalnya kami menuntut ilmu dengan niat karena selain Allah, namun ilmu enggan kecuali jika diniatkan karena-Nya. Artinya bahwa pada akhirnya niat tersebut akan berubah karena Allah.

 

Demikianlah beberapa ringkasan adab bagi seorang pengajar Al Qur’an.

 

Ditulis Oleh:

Abu Fauzan (Cecep Mulya Berliana)

@ Pesantren Sabilunnajah Kab. Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here