بسم الله الرحمن الرحيم

ADAB ADAB PENGHAFAL AL QUR’AN

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, sekarang kita akan membahas adab Penghafal Al Qur’an yang penjelasannya masih saya ambil dari kitab At Tibyan karya Imam Abu Zakaria yahya bin syaraf An Nawawi.

Diriwayatkan dari Hasan radiallahu’anhu beliau berkata:

إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَأَوْا الْقُرْآنَ رَسَائِلَ مِنْ رَبِّهِمْ ، فَكَانُوا يَتَدَبَّرُونَهَا بِاللَّيْلِ وَيُنْفِذُونَهَا فِي النَّهَارِ

 “Sesungguhnya generasi sebelum kalian itu memandang Al Qur’an sebagai risalah dari Rabb mereka, sehingga mereka pun mentadaburinya di malam hari dan mengamalkannya pada siang hari”.

Sedangkan Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan:

حَامِلُ الْقُرْآنَ حَامِلُ رَايَةِ الْإِسْلاَمِ ، لاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَلْهُوَ مَعَ مَنْ يَلْهُو ، وَلاَ يَسْهُو مَعَ مَنْ يَسْهُوَ ، وَلاَ يَلْغُوَ مَعَ مَنْ يَلْغُو تَعْظِيمًا لِحَقِّ الْقُرْآنِ

 “Penghafal Al Qur’an merupakan pembawa bendera Islam maka tidak sepantasnya ia bersenda gurau, lupa dan lalai, ataupun membicarakan hal yang sia-sia bersama dengan orang-orang yang lalai demi mengagungkan kebenaran Al Qur’an”.

Ikhwanil Kiram, Berikut saya sampaikan ringkasan beberapa adab penghafal Al Qur’an-nya:

  1. Tidak Menjadikan Al Qur’an sebagai Mata Pencaharian

Termasuk hal yang paling penting yang diperintahkan, hendaknya ia sangat berhati-hati agar jangan sampai menjadikan Al Qur’an sebagai sarana mencari nafkah. Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda

اِقْرَؤُوا اَلْقُرْآنَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ يُقِيْمُونَهُ إِقَامَةَ الْقَدْحِ يَتَعَجَّلُونَهُ ، وَلاَ يَتَأَجَّلُونَهُ

“Bacalah Al Qur’an sebelum datang kaum yang menegakkannya seperti tegaknya anak panah, mereka menyegerakan upahnya dan tidak menundanya.” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud)

Maksudnya: menyegerakan upahnya dalam bentuk harta, popularitas dan semisalnya

  1. Membiasakan Diri Membaca

Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari beberapa salaf bahwasanya mereka dahulu mengkhatamkan Al Qur’an setiap dua bulan sekali, yang lainnya sebulan sekali, ada yang sepuluh hari sekali, delapan hari sekali, mayoritas tujuh hari sekali. Adapula yang menghatamkannya setiap enam hari sekali, lima hari sekali, empat hari sekali, tiga hari sekali, tetapi ada juga yang menghatamkan dua hari sekali. Dan banyak di antara mereka yang menghatamkan sekali dalam setiap malamnya, namun mayoritas salaf memakruhkan khataman dalam waktu satu hari satu malam, sebagaimana hadits shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu’anhu ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ

“Orang yang menghatamkan Al Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari tidak akan paham apa yang dibacanya”. (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan lainnya)

  1. Membiasakan Qiraah Malam

Thabrani dan lainnya meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda

شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ

“Kemuliaan seorang mukmin terdapat pada qiyamulail” (HR Hakim dan Thabrani)

Diriwayatkan dari Abu Ahwash Al Jasyimi, ia berkata: “Seandainya seorang laki-laki mengetuk pintu tenda (maksudnya mendatanginya malam-malam) maka ia akan mendengar suara seperti dengungan lebah yang berasal dari penghuninya

Imam An Nawawi berkata “Sesungguhnya nilai lebih dari shalat malam dan bacaan Al Qur’an adalah karena ia menyatukan hati, menjauhkannya dari kesibukan-kesibukan lain, dari kelalaian dan memikirkan kebutuhan, lebih menjaga dari riya’, dan semacamnya yang menjadikan amalan sia-sia

  1. Mengulang Al Qur’an Menghindari Lupa

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Ulang-ulanglah Al Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, ia lebih cepat lepas dari pada unta dalam ikatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ الْمُعَقَّلَهِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

“Sungguh, permisalan orang yang hafal Al Qur’an itu ibarat pemilik unta yang diikat (untanya), jika ia selalu menjaganya niscaya bisa mempertahankannya, tetapi jika ia melepaskannya niscaya unta itu akan pergi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Bagi yang lupa Membaca Wirid

Diriwayatkan dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ نَام َعَنْ حِزْبِهِ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

“Barang siapa yang lupa membaca hizibnya pada malam hari, kemudian membacanya pada waktu antara shalat shubuh dan shalat dzuhur maka dicatat baginya pahala sebagaimana jika ia membacanya pada malam hari.“ (HR Muslim).

Demikian disampaikan

 

Ditulis Oleh:

Abu Fauzan (Cecep Mulya Berliana)

@ Pesantren Sabilunnajah Kab. Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here