بسم الله الرحمن الرحيم

BAGAIMANA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM MENYAMPAIKAN AL QUR’AN KEPADA UMAT?

 

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, salah satu hal yang harus diyakini oleh kaum muslimin adalah bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga kitab-Nya dalam kondisi terjaga dari segala bentuk perubahan, pergantian, serta penambahan dan pengurangan. Al Qur’an ini tidak didatangi oleh kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya hingga hari kiamat. Hal ini telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan tegas, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala QS. Al Maidah : 67

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Makna dari ayat diatas adalah bahwa salah satu syarat kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban beliau untuk menyampaikan al Qur’an secara utuh dan sempurna.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman

كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيكُمۡ رَسُولٗا مِّنكُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمۡ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” QS. Al Baqarah : 151

Nash diatas menunjukkan secara pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan Al Qur’an secara utuh, sebagaimana Al Qur’an diturunkan kepada beliau. Tidak ada yang berkurang dan bertambah darinya walaupun satu huruf. Dan setiap muslim wajib meyakini hal ini.

Para Santri sekalian yang semoga Allah Ta’ala muliakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan Al Qur’an kepada umatnya melalui dua cara:

  1. Secara lisan (periwayatan melalui suara)
  2. Secara tertulis (ditulis didalam kitab)

SECARA LISAN (PENYAMPAIAN AL QUR’AN MELALUI SUARA)

Imam al Bukhari meriwayatkan di dalam shahihnya, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah QS. Al Qiyamah 16-19, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”

Dahulu, apabila Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa wahyu, beliau berusaha menerima wahyu yang diturunkan kepadanya dengan susah payah. Hal itu membuat beliau menggerakkan lidah dan kedua bibirnya sehingga ia semakin sulit menerimanya. maka, Allah Subahanahu wa Ta’ala pun menurunkan ayat ini[1]

Adapun penyampaian Al Qur’an melalui suara terdiri dari tiga tahapan:

  1. Jibril Alaihis Salam turun membawa Al Qur’an kedalam hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafadz, makna, dan hal-hal terkait lainnya.
  2. Para Shahabat mempelajari Al Qur’an melalui mulut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka membaca ulang dihadapan beliau sampai beliau akui bacaan mereka
  3. Para Shahabat meriwayatkan Al Qur’an kepada generasi selanjutnya dengan cara yang sama, dan begitu seterusnya hingga sampai kepada kita.

 SECARA TERTULIS

Adapun penyampaian Al Qur’an kepada umatnya secara tertulis, berikut secara ringkas saya sebutkan fase-fase pembukuannya:

  1. Di zaman Nabi, Al Qur’an masih ditulis pada pelepah kurma, papan, kulit binatang, tanah keras, batu dan lain-lain. Beberapa Shahabat memiliki catatan kumpulan wahyu ilahi ini, di antara mereka yang masyhur adalah Zaid bin Tsabit t tatkala kalamullah diturunkan, beliau r segera memanggilnya seraya berpesan:

اُدْعُوا لِي زَيْدًا وَلْيَجِئْ بِاللَّوْحِ وَ الدَّوَاةِ

“Panggilkan Zaid untukku, serta hendaknya dia membawa lauh (alat tulis) dan tinta.”  HR.  Bukhari & Muslim

 

  1. Tulisan tersebut selanjutnya disalin ke dalam lembaran-lembaran dan menjadi sebuah mushaf pada masa Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu

Pengumpulan Al Qur’an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu  disebabkan syahidnya para qari pada perang Yamamah yang jumlahnya sekitar lima puluh qari. Dan perang tersebut terjadi pada tahun 12 H.

  1. Menyalin sejumlah mushaf pada masa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, tepatnya tahun 15 H, terjadi perbedaan bacaan Al Qur’an dikalangan umat islam karena beragamnya lembaran mushaf yang beredar. Kekhawatiran berupa perpecahan di antara kaum muslimin pun dirasakan. Dan demi menyatukan kaum muslimin, berbicaralah Hudzaifah bin Yaman kepada Khalifah Utsman sepulangnya beliau dari Armenia dan Adzarbaijan. Beliau berkata: “Wahai Amirul Mukminin, cegahlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al Qur’an seperti perselisihan kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Utsman mengutus seseorang kepada Hafshah seraya meminta: “Pinjamkanlah kepada kami lembaran-lembaran yang ada padamu (mushaf Al Qur’an pertama), sebab kami akan menyalinnya ke dalam mushaf-mushaf, dan setelah itu kami akan mengembalikanya kembali. Hafshah pun meminjamkannya kepada Utsman. HR. At Tirmidzi

Ibnu Athiyyah menerangkan bahwa lembaran-lembaran berisi ayat-ayat Al Qur’an yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar disimpan di sisinya. Lantas disimpan oleh Umar bin Khathab sepeninggal Abu Bakar. Kemudian disimpan oleh Hafshah sepeninggal ayahnya (Umar bin Khathab) yaitu pada zaman Utsman bin Affan  radhiyallahu ‘anhu

Ustaman pun memerintahkan empat Shahabat dalam tugas ini, yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az Zubair, Sa’id bin al Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam M

Lalu Amirul mukminin mengirimkan mushaf-mushaf salinannya ke beberapa wilayah Islam seperti ke Mekkah, Bashrah, Kuufah, Syam, Yaman, Bahrain dan satu lagi tetap di Madinah. Hingga akhirnya bersatulah kaum muslimin di atas mushaf Utsmani hingga hari ini. (Syarah Muqaddimah Jazariyah hal 581).

 

  1. Kaum muslimin menyalin mushaf-mushaf tersebut ke dalam salinan-salinan yang tidak terhitung jumlahnya

 

  1. Muncul sejumlah karya tulis yang mengatur penulisan Al Qur’an (ilmu penulisan mushaf)

Didalam rangka menjaga kemurnian penulisan Al Qur’an, maka hadirlah para ulama yang menulis tentang ilmu penulisan Al Qur’an ini, seperti kitab Al Muqni’ yang ditulis oleh Abu Amr Ad Dhani, kemudian Mandzhumah Aqilati Atraab  Al Qashaid fii Asnail Maqashid fii‘ilmi Rasm Al Mashahif ( منظومة عقيلة أتراب القصائد في أسنى المقاصد ( yang ditulis oleh imam Asy Syathibi. Dan kitab-kitab para ulama lainnya yang masyhur didalam mengatur penulisan Al Qur’an.

 

Demikianlah Ikhwanil Kiram sedikit penjelasan mengenai bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan Al Qur’an kepada umatnya.

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

 

 

[1] Lhat Shahih Bukhari (VII/680, no. 4927)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here