بسم الله الرحمن الرحيم

DEFINISI AL QUR-AN

 

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وبعد

Ikhwanil Kiram, pada pertemuan perdana kita kali ini, yaitu setelah muqadimah yang saya sampaikan, mari kita bahas materi demi materi yang ada di dalam buku Tartil Ringkasan Tajwid Dasar ini

Al Qur-an secara bahasa adalah mashdar dari قرأ-يقرأ, maknanya ada dua, yaitu:

  1. Sesuatu yang dibaca, diartikan demikian dikarenakan Al Qur-an dibaca oleh lisan-lisan manusia.
  2. Pengumpul, diartikan demikian dikarenkan Al Qur-an adalah mengumpulkan kabar dan hukum.

Adapun secara istilah syar’i, Al Qur-an adalah

كَلاَمُ اللَّـهِ تَعَالَ، الْمُعْجِزُ، الْمُنَزَّلُ عَلَى خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى اللـه عليه وسلم  بِوَاسِطَةِ الأَمِيْنِ جِبْرِيلَ  عليه السلام  الْمَكْتُوبُ فِي الْمَصَاحِفِ، الْمَنْقُولُ إِلَيْنَا بِالتَّوَاتُرِ، الْمُتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ، الْمَبْدُوُءُ بِسُوْرَةِ الْفَاتِحَةِ، الْمَخْتُومُ بِسُورَةِ النَّاسِ.

Al Qur-an adalah “Kalamullah I, sebagai mu’jizat, yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam dengan perantara Jibril Alaihi Salam. Yang tertulis dalam mushaf-mushaf, yang dinukil sampai kepada kita secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, yang dimulai dengan surah al Fatihah yang ditutup dengan surah an-Naas.”[1]

 “Al Qur-an disebut Kalamullah (firman Allah)” maksudnya adalah bahwa semua huruf, lafadz, dan makna Al Qur-an termasuk Kalamullah. Dalil bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” QS. At-Taubah: 6

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan

إن القرآن كلام الله، مُنَزَّل غير مخلوق، منه بدأ، و إليه يعود

“Al Qur-an adalah Kalamullah, yang diturunkan dan bukan diciptakan (baca: bukan makhluk), berasal hanya dari-Nya, dan kembali kepada-Nya”

MU’JIZAT

Kata mu’jizat [المعجزة] turunan dari kata al-Ajz [العَجْز] yang artinya tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Sementara secara istilah syar’i, mu’jizat adalah kejadian luar biasa yang Allah Ta’ala berikan kepada para nabi-Nya sebagai bukti status kenabian mereka.[2]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy rahimahullah menjelaskan,

“Mu’jizat adalah sesuatu yang Allah turunkan melalui para Rasul dan Nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para Rasul dan Nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al Qur-an.”[3]

YANG DITURUNKAN

Yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam, maka Suhuf Ibrahim, Zabur, Taurat, dan Injil tidak termasuk didalamnya, karena kitab-kitab tersebut diturunkan kepada Nabi yang lainnya sebelum beliau, adapun kaum muslimin hanya sebatas mengimani kitab-kitab yang telah turun tersebut tanpa menjalankan syari’atnya.

Para pembaca sekalian, Sejatinya wahyu turun kepada Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bukanlah kepada pendengarannya, akan tetapi wahyu turun kepada hati beliau, Allah Ta’ala berfirman QS. Asy Syu’ara : 193-194

نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ  ١٩٣ عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ  ١٩٤

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”

MUTAWATIR[4]

Kemudian pada definisi Al Qur-an diatas ada kata mutawatir, secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan.

Sedangkan mutawatir menurut istilah adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya yang menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengarannya dan semacamnya”.

MEMBACANYA BERNILAI IBADAH

Ibnu Mas’ud Rhadiyallahu anhu  berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam  bersabda”

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِن أَلِفٌ حَرْفُ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur-an maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam min itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” HR At Tirmidzi dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud Rhadhiyallahu anhu

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai definisi Al Qur-an yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini.

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

@ Pesantren Sabilunnajah

 

[1] Al Qur-an Ahkamuha wa Mashdaruhaa (hlm 11) Karya Dr. Sya’ban Muhammad Ismail

[2] ar-Rusul wa ar-Risalat, Umar al-Asyqar, hlm. 86

[3] At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107

[4] https://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/hadits-mutawatir/

Kiriman serupa

2 Komentar

  1. Al quran adalah kalamullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *