بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, di manapun antum sedang membaca artikel ini. Seperti yang sudah disampaikan diakhir pembahasan kita mengenai lahn, pada kesempatan ini, bi’idznillahi Ta’ala kita akan membahas mengenai hukum mengamalkan ilmu tajwid yang dimana penjelasan hukumnya sama dengan hukum lahn khafiy yang para ulama berbeda pendapat didalamnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum beriltizam (komitmen dan konsisten) dengan tajwid, mereka membaginya menjadi tiga

Pertama, hukumnya wajib. Beberapa ulama seperti Imam Ibnul Jazari berpendapat bahwa mengamalkan seluruh hukum tajwid adalah wajib bagi orang yang membaca Al Qur-anul Karim. Sehingga orang yang meningalkannya berdosa. Berdasarkan perintah Allah Ta’ala  QS. Al Muzammil : 4

… وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا  ٤

“… Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” Yaitu maksudnya dengan tajwidnya

Kedua, hukumnya tidak wajib. Para ulama lainnya seperti Mulaa ‘Ali berpendapat bahwa tidak wajib mengamalkan hukum-hukum tajwid seluruhnya ketika membaca Al Qur-anul Karim seperti tidak mentakrirkan huruf ra dan menebalkan huruf lam yang tidak pada tempatnya. Alasannya adalah hal tersebut sangat memberatkan kaum muslimin, sedangkan Allah Ta’ala  berfirman QS Al Hajj : 78

… وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ …  ٧٨

“… dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…”

Ketiga, hukumnya antara dua pendapat di atas. Sebagian ulama memiliki pendapat yang pertengahan dalam hal ini seperti pendapatnya Syaikh Aiman Rusdi Suwaid, Dimana mereka memperinci hukum-hukum tajwidnya sebagai berikut:

  1. Dari sisi makharijul huruf (tempat keluarnya huruf)

Beriltizam dengannya wajib, sehingga melalaikan dan meninggalkannya haram secara mutlak. Seperti mengubah bacaan huruf ha (ح) dengan huruf (ه) atau (خ) pada  الحَمْدُ

  1. Dari sisi shifatul huruf, dibagi menjadi dua:
  • Sifat wajib

Apabila sifat ini berubah maka ia akan mengeluarkan huruf dari hakikatnya. Hukum beriltizam dengannya wajib, dan meninggalkannya haram secara mutlak. Seperti menebalkan huruf  ta (  ت )  pada (  الْمُسْتَقِيم ) menjadi huruf (ط ) yaitu (  الْمُسْطَقِيم)

  • Sifat penghias

Adapun sifat penghias, seperti menebalkan huruf ra yang berharakat fathah dan dhammah, contohnya: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيم   ) dibaca tebal ketika mengucapkannya (الرَّحْمَنِ الرَّحِيم) maka hukumnya terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Apabila qiraahnya dalam rangka talaqqi (belajar langsung dari guru), maka hukumnya wajib menghindari lahn khafiy dan tidak boleh (haram) secara mutlak sengaja melakukannya walaupun tidak merusak makna, karena maqam (kedudukannya) di sini adalah maqam riwayat, sedangkan lahn khafiy merupakan kedustaan dalam riwayat.
  2. Apabila qiraahnya dalam rangka tilawah biasa, maka hukumnya tidak wajib. Namun dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu:
  • Jika seorang qari adalah orang yang mutqin (mahir) dan mengerti hukum tajwid, maka tercela bagi dirinya membaca Al Qur-an dengan tidak memakai hukum-hukumnya.
  • Jika seorang qari adalah orang ‘awam, maka in Syaa Allah tidak mengapa, karena dia meninggalkan sifat-sifat hiasan (tazyiniyah tahsiniyyah) yang tidak mengeluarkan huruf dari tempatnya serta tidak merusak makna. Wallahu a’lam.

 

 

Demikian yang bisa disampaikan

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *