بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala  yang telah memuliakan kita dengan mengutus Nabi Muhamad  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menurunkan kepada beliau kitab yang agung, yaitu Al Qur-anul Karim. Kitab yang agung ini terdiri dari 114 surah, 1 surah terdiri dari beberapa ayat, 1 ayat terdiri dari satu atau beberapa kalimat, dan 1 kalimat terdiri dari beberapa kata, dan 1 kata terdiri dari beberapa huruf.

Huruf adalah komponen terkecil dari Al Qur-an yang Allah Ta’ala telah memuliakan kita dengannya[1] Oleh karena itu, mengenal huruf-huruf hijaiyah merupakan hal yang penting dalam ilmu tajwid.

Para santri sekalian yang semoga Allah Ta’ala muliakan, pada pertemuan kita kali ini, in Syaa Allah kita akan membahas mengenai huruf-huruf hijaiyah tersebut.

Secara bahasa, huruf adalah jamak dari kata harf, dan harf artinya tharaf (ujung),  Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ  ١١

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” QS. Al Hajj : 11

Kemudian, huruf secara istilah adalah

الصَّوْتُ الْمُعْتَمِدُ عَلَى مَخْرَجٍ مُحَقَّقٍ أَوْ مُقَدَّرٍ

“Suara yang bersandar pada makhraj muhaqqaq atau muqaddar”[2]

Yang dimaksud dengan makhraj muhaqqaq adalah suara yang memiliki sandaran pada bagian tertentu, seperti tenggorokan, lidah dan dua bibir.  Contoh, Jika satu huruf keluar dengan bersandar kepada tenggorokan, maka disebut huruf-huruf halq (huruf-huruf tenggorokan). Seperti huruf kha dan ‘ain yang keduanya keluar dari tenggorokan

أَخْ   –   أَعْ

Adapun yang dimaksud dengan makhraj muqaddar adalah suara yang  tidak memiliki sandaran pada bagian-bagian tersebut diatas. Ia terdiri dari huruf-huruf jauf (huruf-huruf yang mengalir diantara rongga mulut dan rongga tenggorokan), yaitu huruf-huruf mad.[3]  Seperti ,  alif sukun sebelumnya huruf berharakat fathah, ya sukun sebelumnya kasrah, dan wawu sukun sebelumnya dhammah

ءَامَنُوا   –   إِيْمَـنَا   –   أُوْتِىَ

Huruf-huruf Arab ditinjau dari sisi pengucapan dan penulisan terbagi menjadi dua jenis yaitu huruf abjadiyah dan huruf hijaiyah

Huruf abjadiyah adalah huruf maktubah (huruf yang ada dalam penulisan). Dikenal dengan hisabul jumal (huruf yang mempunyai makna angka-angka tertentu) jumlahnya ada 28 huruf, dengan susunan sebagai berikut:

أَبْجَدْ – هَوَّزْ – حُطِّي – كَلَمُنْ – سَعْفَصْ – قَرَشَتْ – ثَخَذٌ – ضَظَغٌ

Para ulama atau tepatnya ahli hisab (pakar ilmu hitung) mengunakan rumus abjad di atas untuk menghitung, seperti yang dilakukan oleh Imam Sulaiman al Jamzuri  ketika menghitung jumlah bait matan Tuhfatul Athfal dan tahun pembuatannya, pada bait ke 59 dalam mandzumahnya, beliau berkata:

أَبْيَاتُهُ نَدٌّ بَدَا لِذِي النُّهَى       –       تَارِيْخُهَا بُشْرَى لِمَنْ يُتْقِنُهَا

“Jumlah baitnya 61 bagi pemilik akal (pengetahuan)   –   tahun (pembuatannya) adalah 1198 H

Kemudian, adapun huruf hijaiyah adalah huruf manthuqah (huruf yang ada dalam pengucapan bahasa arab), jumlahnya ada 29 huruf, disusun oleh Imam Nashr bin Ashim al Laitsi (wafat 90 H) sesuai kesamaan bentuk dalam tulisan, kemudian memberikan titik pada setiap huruf-huruf  tersebut agar dapat dibedakan antara satu huruf dengan huruf-huruf yang lainnya.

Perlu diketahui bersama bahwa Imam Nashr bin Ashim memiliki peran yang besar di dalam penyusunan huruf hijaiyah ini, dahulu sewaktu kecil kita ingat bagaiman kita membacakan huruf-huruf tersebut:

ا – ب – ت – ث – ج – ح – خ …

Dan seterusnya…

Dan kita tidak mengetahui kenapa di tulis dan disusun seperti itu. Beliaulah Imam Nashr bin Ashim yang menyusunnya dahulu, sehingga bisa sampai kepada kita dengan penyusunan seperti itu.

Beliau menyusunnya berdasarkan kemiripan pada bentuk tulisan tersebut, perhatikanlah

                                                                                                                    ب – ت – ث

Ketiga huruf diatas memiliki kemiripan pada bentuk tulisannya, sehingga beliau menyusunnya sesuai bentuk tersebut, demikian juga

ج – ح – خ   ، د – ذ  ،  ر – ز  ، س – ش  ،  ص – ض ،  ط – ظ  ، ع – غ ،  ف – ق ، ك – ل

Adapun, mim, maka tidak menyerupai huruf yang lain sehingga dipisahkan dari huruf-huruf yang mirip tadi, demikian juga huruf nun, huruf nun selintas memang seperti ba, ta dan tsa ketika bersambung hurufnya, namun ketika nun ini bersendirian, maka dia berbeda bentuknya dengan ketiga huruf tersebut. kemudian juga ha, wa keduanya berbeda pula. adapun lam alif, dia adalah alif sebenarnya yang memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan huruf-huruf yang lainnya, yaitu ia tidaklah datang melainkan dalam keadaan sukun dan huruf sebelumnya berharakat fathah, tidak memulai sebuah kata dengannya dan ia membutuhkan pada huruf lain yang mendahuluinya. Adapun alif yang ada di awal huruf hijaiyah,  disebutnya alif majaz (kiasan), maksudnya bukanlah alif secara hakiki akan tetapi itu pada hakikatnya  adalah hamzah. Dan huruf hijaiyah terakhir adalah ya.

Siapa yang menghafal dan memahami huruf hijaiyah sebagaimana orang-orang Arab melafadzkan huruf tersebut dengan makhraj dan sifatnya, niscaya dengan izin Allah I dia sanggup membaca Al Qur-an tanpa menemui kesalahan. [4]

 

Demikian yang bisa disampaikan

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

 

[1] Lihat Hiyatut Tilawah (hal. 77)

[2] Ahkamu Qira’atil Qur’anil Karim (hal. 45)

[3] Ahkamu Qira’atil Qur’anil Karim (hal. 45)

[4] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 54)

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *