بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, Alhamdulillah telah berlalu pelajaran kita mengenai bab tafkhim dan tarqiq. dan in Syaa Allah pada kesempatan ini kita akan membahas materi selanjutnya dari buku “tartil’ ini, yaitu istiadzah & basmalah

ISTIADZAH

Menurut Bahasa, istiadzah adalah meminta perlindungan. Adapun menurut istilah adalah

لَفْظٌ يَحْصُلُ بِهِ الْاِلْتِجَاءُ إِلَى اللهِ وَالتَّحَصُّنُ بِهِ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sebuah lafadz yang digunakan untuk meminta perlindungan kepada Allah serta pembentengan diri dari syaitan.

Diantara bentuk bacaan istiadzah adalah[1]:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk”

Makna istiadzah di atas adalah aku meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan syaitan yang terkutuk.[2] Dan faidah serta hikmah istiadzah ini  adalah dapat menjauhkan was-was dan godaan syaitan agar qari atau pembaca Al Qur-an bisa mentadabburi, memahami, dan khusyu[3] Ketika membaca Al Qur-an.

Imam ibnul Jazari rahimahullah berkata Ketika berbicara tentang pensyariatan istiadzah sebelum qiraah (membaca) al Qur-an: “Sesungguhnya ia berfungsi sebagai penyuci mulut dari perkataan kotor dan sia-sia yang telah dilakukannya, di samping sebagai persiapan sebelum membaca Kalamullah (Al Qur-an). Ia merupakan permohonan perlindungan kepada Allah dari kesalahan yang akan muncul sewaktu qiraah, serta pengakuan terhadap kekuasaan-Nya (untuk melindungi), mengingat ketidakmampuan seorang hamba dalam menghadapi musuh yang tersembunyi (syaitan). Sungguh tidak ada yang sanggup untuk mencegah musuh itu kecuali Allah, Rabb yang menciptakannya.”[4]

Berkaitan dengan Hukum Istiadzah

Ada dua pendapat seputar hukum mengucapkan istiadzah, yaitu wajib dan sunnah

Beberapa ulama berpendapat hukumnya wajib atas dasar memahami perintah Allah pada surah an Nahl ayat 98 dengan makna wajib.

Imam Abdurrazzaq rahimahullah meriwayatkan dalam mushannaf-nya dari Atha, bahwa dia berkata: “Istiadzah itu wajib pada setiap qiraah dalam shalat ataupun di luar shalat, berdasarkan firman Allah QS. An Nahl 98

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

Adapun jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah. Mereka memaknai perintah Allah pada surat An Nahl ayat 98 dengan makna nadb (sunnah)

Membaca Istiadzah berdasarkan kondisi

Para santri sekalian, Istiadzah dapat dibaca dengan dua cara yaitu jahr (suara keras) dan sir (suara lirih)

Istiadzah dibaca secara jahr dalam dua keadaan, yaitu:

Pertama, qari berada pada qiraah jahr, dan ada orang yang mendengarkan bacaannya

Kedua, qari berada di tengah jamaah, dan ia yang memulai bacaannya.[5]

Adapun Istiadzah dibaca secara sir terdapat dalam empat keadaan, yaitu:

Pertama, qari berada pada qiraah sir

Kedua, qari dalam keadaan sendirian, baik ia membaca al Qur-an dengan jahr  ataupun dengan sir

Ketiga, qiraah dengan daur (secara bergantian diantara jamaah), dan qari bukan orang yang pertama memulainya

Keempat, qiraah dalam shalat, baik itu secara jahriyah ataupun siriyah.[6]

Kesimpulan dari keadaan-keadaan di atas adalah istiadzah selalu dibaca sir, kecuali dalam qiraah yang jahr. Istiadzah dibaca jahr saat ada yang mendengarkannya atau dalam qiraah daur dengan catatan dia yang memulainya.

Timbul pertanyaan??? Kenapa dianjurkan adanya jahr dan sir dalam istiadzah?

Istiadzah dijahrkan dengan maksud agar pendengar diam untuk mendengarkan qiraah dari awal bacaan sehingga tidak ada yang luput darinya sedikitpun. Karena ucapan ini adalah syi’ar dan pertanda bagi qiraah al Qur-an.

Adapun istiadzah disirkan untuk membedakan bacaan Al Qur-an dengan bacaan yang bukan Al Qur’an

Demikian yang bisa disampaikan, untuk pembahasan basmalah, in Syaa Allah kita bahas pada pertemuan berikutnya

 

SOAL LATIHAN

ISTIADZAH & BASMALAH (1)

PERTANYAAN

  1. Menurut Bahasa, Istiadzah adalah…….

a. Meminta Pertolongan

b. Meminta Perlindungan

c. Meminta Kebaikan

d. Meminta Pengampunan

 

  1. Imam Abdurrazzaq rahimahullah meriwayatkan dalam mushannaf-nya dari Atha, bahwa dia berkata: “Istiadzah itu wajib pada setiap qiraah dalam shalat ataupun di luar shalat, berdasarkan firman Allah QS. An Nahl ayat ke …….

a. 96

b. 97

c. 98

d. 99

 

  1. Istiadzah dibaca secara sir terdapat dalam empat keadaan, yaitu diantaranya …….

a. Qari berada pada qiraah sir

b. Qari dalam keadaan sendirian, baik ia membaca al Qur-an dengan jahr (keras) ataupun dengan sir (lirih)

c. Qiraah dalam shalat, baik itu secara jahriyah ataupun siriyah.

d. Jawaban benar semua

 

Kunci Jawaban : No. 1 : B, No. 2 : C, No. 3 :  D

 

[1] Penambahan dan pengurangan bentuk bacaan istiadzah bisa dilihat dalam an Nasyr. (I/249-251), Hidayatul Qari’ (I/555-556) dan Taisir ‘Ilmu Tajwid (hal. 22) serta Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 85)

[2] Dirasat ‘Ilmut Tajwid lil Mutaqaddimin (hal. 49) dan Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 85)

[3] Idem

[4] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 86) dan Lihat keterangan selengkapnya dalam an-Nasyr : I/201-202

[5] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 88) dan Ghayatul Murid (hal. 45) serta Hilyatut Tilawah (hal. 69)

[6] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 88) dan Dirasat ‘Ilmut Tajwid lil Mutaqaddimin (hal. 50)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here