بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, Alhamdulillah setelah kita membahas istiadzah pada pekan kemarin, dalam rangka meneruskan materi kita selanjutnya, in Syaa Allah pada kesempatan ini kita akan membahas berkaitan dengan materi Basmalah

Makna Basmalah

Lafadz “basmalah” (اَلْبَسْمَلَةُ) merupakan mashdar (asal kata) dari fiil:   بَسْمَلَ – يُبَسْمِلُ  yakni “mengucapkan (بِسْمِ اللهِ) atau   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمِنِ الرَّحِيْمِ

Makna basmalah adalah: (بَدَأْتُ بِعَوْنِ اللهِ وَتَوْفِيْقِهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ)  “Aku memulai perbuatan dengan meminta pertolongan dan taufik Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”[1]

Bentuk Bacaan Basmalah

Adapun Lafadz basmalah seperti yang tercantum pada surah An Naml ayat 30. Allah Ta’ala berfirman

۞ إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Sebagaimana lafadz ini tercantum dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Anas bin Malik berikut: “Pada suatu hari Rasulullah berada di tengah-tengah kami, lalu tiba-tiba beliau pingsan. Tidak lama kemudian beliau sadar dan mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya: ‘apa yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah? Beliau menjawab:

أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُوْرَةٌ، فَقَرَأَ : (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمِنِ الرَّحِيْمِ)

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. QS. Al Kautsar 1-3[2]

Hukum Membaca Basmalah

Hukum membaca basmalah terbagi menjadi dua keadaan, yaitu pada awal surah dan pada pertengahan surah.

Para qari (qurra’ sab’ah) sepakat untuk membaca basmalah pada awal setiap surah kecuali surah bara’ah (At Taubah). Hal ini didasarkan pada dalil dalil berikut

Pertama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui akhir sebuah surah hingga diturunkan:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمِنِ الرَّحِيْمِ

                Kedua, Ibnu Abbas radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu: “Mengapa basmalah tidak ditulis di awal surah Bara’ah? Ali menjawab: “Karena dalam basmalah terkandung makna keamanan. Maka tidak ada kesesuaian antara keamanan dan pedang (peperangan).”[3]

Adapun hukum membaca basmalah di pertengahan surah, seorang qari boleh memilih antara membacanya atau tidak membacanya.

Tetapi terdapat beberapa ayat pada pertengahan surah yang ditekankan untuk membaca basmalah. Seperti memulai ayat yang dimulai dengan dhamir (kata ganti) yang kembali kepada Allah seperti  (إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ) pada surat Fushilat ayat 47

Terdapat pula beberapa ayat yang ditekankan untuk tidak membaca basmalah, Seperti:

Lafadz (الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ ) surah Al Baqarah ayat 268

Maka hendaknya pembaca Al Qur’an memperhatikan masalah ini dengan tidak membaca basmalah pada ayat tersebut dan ayat lain yang semisalnya, karena basmalah merupakan rahmat dari Allah, sedangkan keadaannya disini tidak sesuai dengan hal itu.

CARA MEMBACA ISTIADZAH DAN BASMALAH[4]

Ikhwanil Kiram, membaca istiadzah, basmalah dan surah terdiri atas dua keadaan yaitu ketika memulai membaca pada awal surah dan ketika memulai membaca pada pertengahan surah.

Ketika memulai membaca Al Qur’an pada awal surah dengan mengucapkan istiadzah dan basmalah sebelumnya, dibolehkan bagi seorang qari melakukan salah satu dari empat kaifiyah tersebut yaitu:

Cara Membaca Istiadzah, Basmalah, dan Awal Surah

  1. Memutus semua ( قَطْعُ الْجَمِيع ) Maksudnya membaca istiadzah, basmalah, dan awal surah secara terpisah. Dan cara ini adalah cara yang paling utama, contoh:

أعوذبالله من الشيطان الرجيم – بسم الله الرحمن الرحيم – تبت يدا أبي لهب وتب

  1. Memutus yang pertama dan menyambung yang kedua dengan yang ketiga ( قَطْعُ الأَوَّلِ وَ وَصْلُ الثَّانِي بِالثَّالِث ) maksudnya adalah membaca istiadzah secara terpisah kemudian membaca basmalah disambung dengan awal surah, contoh:

أعوذبالله من الشيطان الرجيم – بسم الله الرحمن الرحيمِ  تبت يدا أبي لهب وتب

  1. Menyambung yang pertama dengan yang kedua, memutus yang ketiga ( وَصْلُ الأَوَّلِ بِالثَّانِي وَقَطْعُ الثَّالِثِ ) Maksudnya menyambung istiadzah dan basmalah, kemudian baru awal surah

أعوذبالله من الشيطان الرجيمِ  بسم الله الرحمن الرحيم – تبت يدا أبي لهب وتب

  1. Menyambung semua ( وَصْلُ الْجَمِيع ) Maksudnya istiadzah, basmalah, dan awal surah dibaca bersambung

أعوذبالله من الشيطان الرجيمِ  بسم الله الرحمن الرحيمِ  تبت يدا أبي لهب وتب

                Dari keempat cara membaca diatas, yang lebih utama adalah membaca dengan cara qath’ul jami’. Karena inilah yang merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membaca Al Qur’an dengan melakukan waqaf seayat demi seayat. Ini juga yang menjadi madzhab Abu Amr ad-Dani rahimahullah.

Dalam hal ini Syaikh Muhaddits al Albani rahimahullah menukil perkataannya sebagai berikut:

وَكَانَ جَمَاعَة ٌمِنَ الْأَئِمَّةِ السَّالِفِينَ وَالْقُرَّاءِ الْمَاضِيْنَ يَسْتَحِبُّونَ الْقَطْعَ عَلَى الآيَاتِ وَإِنْ تَعَلَّقَ بَعْضُهُنَّ بِبَعْضِ

“Sejumlah imam dan para qari terdahulu terbiasa memutus bacaan al Qur’an seayat-seayat walaupun Sebagian ayatnya masih memiliki hubungan satu sama lain dari sisi makna.

Kemudian Syaikh Al Albani rahimahullah berkata:

وَهَذِهِ سُنَّةٌ أَعْرَضَ عَنْهَا جُمْهُورُ القُرَّاءِ فِي هَذِهِ الْأَزْمَانِ فَضْلاً عَنْ غَيْرِهِمْ

“Ini adalah sunnah yang kebanyakan para qari telah berpaling darinya pada zaman ini, apalagi selain mereka.[5]

Adapun bahasan memulai membaca pada pertengahan surah, in Syaa Allah kita akan bahas pada pertemuan selanjutnya.

 

SOAL LATIHAN

ISTIADZAH & BASMALAH (2)

PERTANYAAN

  1. Lafadz basmalah tercantum pada surah An Naml ayat …….

a. 30

b. 31

c. 32

d. 33

 

  1. Arti dari قَطْعُ الْجَمِيع   adalah

a. Menyambung semua

b. Memutus semua

c. Memutus yang pertama dan menyambung yang kedua dengan yang ketiga

d. Menyambung yang pertama dengan yang kedua, memutus yang ketiga

 

  1. Hukum membaca basmalah terbagi menjadi ……. keadaan

a. Satu

b. Dua

c. Tiga

d. Empat

Kunci Jawaban : No. 1 : A, No. 2 : B, No. 3 :  B

 

 

[1] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal 89) & Dirasatu ‘Ilmi Tajwid (hal. 51)

[2] HR. Muslim (no. 400)

[3] Lihat al Wafi ala Syarhil Syathibiyyah (hal 38) Pedang yang dimaksud adalah ayat 29 dari surah At Taubah

[4] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 92)

[5] Ashlu sifati shalah an Nabiy (1/294)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here