بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, membaca Al Qur-an dengan bertajwid merupakan bacaan yang ringan, nikmat, dan lembut.  Bacaannya tidak berkomat kamit, tidak dipaksa-paksakan, tidak dibuat-buat, tidak berlebihan dan tidak menyimpang dari tabiat orang arab dan ucapan orang fasih dari segi apapun dalam cara membaca dan menyampaikan bacaannya.

Pada kesempatan pelajaran kali ini setelah kita membahas huruf-huruf hijaiyah dan organ-organ suara, masih berhubungan dengan suara, berikut akan dicontohkan kesalahan-kesalahan suara ketika membaca yang tidak secara alami mengalir. Contoh ini saya kutip dari penjelasan Dr. Aiman Rusydi Suwaid di dalam videonya Ta’limut Tajwid ketika beliau menjelaskan kalamnya Imam Ibnul Jazari di dalam kitabnya ‘An Nashr’, pada video tersebut beliau menjelaskan dan mencontohkan delapan kesalahan-kesalahan suara ketika membaca Al Qur-an, berikut penjelasannya:

  1. Tamdighul Lisan (تمضيغ اللسان) Tamdhigh, berasal dari mudghah, yaitu gumpalan. Dimana ketika seseorang membaca Al Qur-an, seolah-olah pada mulutnya ada gumpalan, dan dia berbicara atau membaca dengan kondisi seperti itu. Saya akan mencontohkan bacaan yang salah ini kepada antum sekalian, sehingga kita dapat terhindar dari cara membaca tersebut, (contoh). Santri sekalian, inti dari cara baca seperti itu adalah takalluf / berlebihan / seperti dibuat-buat sehingga menyusahkan diri sendiri, padahal membaca Al Qur-an dengan tajwid merupakan bacaan yang ringan
  2. Taq’irul Fam (تقعير الفم) Taq’ir berasal dari “qa’ar” artinya bawah/kedalaman, contoh Fulan berbicara dengan cara taq’ir’ artinya ‘Fulan berbicara dari dalam tenggorokannya’. Para santri sekalian,  sebagaimana diketahui, huruf-huruf yang ada ditenggorokan adalah hanya ada 6:  أ ، هـ ، ع ، ح ، خ ، غ  Yang menjadi suatu kesalahan pembaca dalam membaca Al Qur-an dengan cara Taq’ir ini adalah karena tekanan yang berlebihan pada tenggorokan ketika berbicara atau membaca, sehingga dengannya akan keluar huruf-huruf yang menyerupai huruf ‘ain. (contoh) cara baca tersebut menyerupai huruf ‘ain disebabkan karena terlalu menekannya bacaan seseorang kepada tenggorokannya. Hindarilah hal tersebut dengan cara yang biasa! Allah I  berfirman:

مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ  ٢

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah

 

  1. Ta’wijil Fak (تعويج الفكّ) Ta’wij pada rahang yaitu membaca dengan cara imalah pada yang bukan tempatnya. Dan Imalah adalah melafalkan alif yang dimiringkan, yaitu antara alif dan ya. (contoh) dia jadikan rahang bagian bawahnya senantiasa dikebawahkan ketika melafalkan huruf-hurufnya
  2. Tar’idus Saut (ترعيد الصوت) Tar’id pada suara, yaitu menjadikan suara seolah-olah bergetar dan berguncang (contoh) cara ini adalah terlarang, bisa jadi sebenarnya seseorang ini pada awalnya tidak membaca seperti itu, namun mungkin karena hal hal tertentu, sehingga bacanya jadi seperti itu. Ada yang membolehkan membaca seperti itu, namun itu juga ketika seseorang merasa tersentuh dan menangis ketika membaca Al Qur-an secara spontanitas.
  3. Tamthithus Syaddi (تمطيط الشّدّ) Tamthith pada huruf bertasydid, yaitu memanjangkan huruf yang bertasydid, (contoh) setiap pembaca melafalkan huruf-huruf yang bertasydid, dia panjangkan bacaan huruf yang bertasydidnya, padahal sebagaimana kita ketahui bahwa mad pada huruf-huruf bertasydid hanya ada pada mim, nun dan gunnah
  4. Taqhti’ul Mad (تقطيع المد) Taqhti pada mad, maksudnya yaitu perpindahan dari satu tingkatan suara ke tingkatan suara yang berbeda dalam satu huruf mad. (contoh) Kenapa tidak boleh? Karena akan melahirkan beberapa mad dalam satu huruf mad tersebut
  5. Tahthninul Ghunnah (تطنين الغنات) Tathnin pada ghunnah/dengung ini serupa dengan taqthi pada mad, contoh

من الجنّة و النّاس

Itulah yang disebut Tahthninul Ghunnah yaitu bergetarnya gunnah tersebut, adapun yang benar adalah (contoh)

  1. Hashramatur Raa aat (حصرمة الراءات) Hasramah pada huruf ra. Hasramah secara bahasa bermakna penyempitan, maksudnya seseorang menahan suara ra sedemikian rupa sehingga suara seperti terputus, (contoh) pada bacaan tersebut huruf ra yang dilafalkan seakan akan terputus dan tertahan padahal suara ra mengalir sebagaimana sifat yang disifatkan kepadanya, yaitu bainiyan (diantara rakhawah dan syiddah).

Ikhwanil Kiram, semua poin kesalahan- kesalahan suara ketika membaca diatas, disebutkan agar bisa kita pahami bersama dan bisa kita hindari kesalahan-kesalahannya, karena bacaan tersebut pada intinya adalah bacaan yang takalluf/bacaan yang dibuat-buat/ menyusahkan diri sendiri.

 

 

Demikian disampaikan

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *