بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, Menyempurnakan harakat ketika membaca Al Qur-an sangatlah penting, karena dengan cara menyempurnakannyalah huruf-huruf yang dibaca menjadi jelas pelafalannya. Pada pelajaran sebelumnya, Alhamdulillah kita telah membahas huruf-huruf hijaiyah sebagai komponen terkecil dari Al Qur-an, kemudian juga kita telah membahas organ-organ suara makhraj utama huruf Arab, sehingga dengannya kita mengenal secara umum tempat-tempat keluar huruf dalam organ-organ mulut kita. Dan demikian juga kita telah membahas cara terbentuknya suara dan huruf pada organ-organ suara manusia yang dimana salah satu manfaat mempelajarinya adalah kita dapat mengetahui prinsip setiap huruf yang bersukun dan berharakat itu keluar dari dalam mulut kita. Seperti huruf yang bersukun keluar dikarenakan adanya benturan antara dua ujung organ suara, adapun huruf yang berharakat keluar, karena dua ujung organ suara yang saling menjauh. Dan yang terakhir kita juga telah mempelajari kesalahan-kesalahan suara ketika membaca Al Qur-an yang tidak secara alami mengalir, yang dimana saya ulas pembahasan ini agar kita memiliki standar, bahwa membaca Al Qur-an dengan bertajwid merupakan bacaan yang ringan, nikmat, dan lembut.

Pelajaran kita pada kesempatan kali ini adalah pelajaran penting lainnya sebelum kita masuk kepada bab makharijul huruf sebagai inti dari pelajaran ilmu tajwid, yaitu menyempurnakan harakat.

Huruf-huruf hijaiyah tidak terlepas dari 3 keadaan ketika huruf tersebut berharakat, yaitu fathah, dhamman dan kasrah. Pada hakikatnya fathah adalah alif koshirah (pendek), adapun dhammah adalah wawu koshirah dan kasrah adalah yaa koshirah. Oleh karena itu ketika seseorang melafalkan huruf-huruf yang berharakat fathah maka keadaannya seperti melafalkan huruf alif, contoh كَتَبَ   wajib bagi seorang qari’ (pembaca) untuk membuka mulutnya dan menjauhkan kedua rahang mulutnya ketika melafalkan huruf-huruf yang berharakat fathah tersebut, disebut fathah karena terbukanya mulut ketika mengucapkannya, adapun kalau dibacanya dengan cara tidak membuka mulut (mencontohkan) seakan-akan mulutnya tertutup, lalu dimana posisi fathahnya? Maka wajib membukanya sehingga jelaslah harakat tersebut diucapkan.

Demikian juga harakat dhammah. Dhammah adalah wawu koshirah, seorang qari wajib menyatukan kedua bibirnya saat membaca huruf-huruf berharakat dhammah seperti bentuk melafalkan wawu. Dan Wawu Arabiyah adalah (أُو) bukan (أُو) , يَتَسَآءَلُونَ  bukan يَتَسَآءَلُونَ  bukan أَعُوذُ    tapi  أَعُوذُ

Ikhwanil Kiram, Bagaimana kita mengetahui dhammah yang shahih dengan dhammah yang tidak shahih? Jawabannya mudah, Silahkan panjangkan suara dhammah tersebut! Apabila suara dhammah tersebut melahirkan wawu arabiyah yang shahihah maka suara dhammah yang kita keluarkan shahih. Namun apabila melahirkan huruf (ooo) maka itu bukan dhammah yang shahih, karena (o) bukan huruf arabiyah. Oleh karena itu wajib bagi seorang qari untuk menyatukan kedua bibir saat membacakan huruf-huruf yang berharakat dhammah seperti bentuk melafalkan wawu.

Demikian juga harakat kasrah, harakat kasrah diibaratkan sebagai yaa koshirah, maka wajib merendahkan rahang mulut bagian bawah dan mengangkat bagian tengah lidah saat membaca huruf-huruf berharakat kasrah, seperti bentuk melafalkan ya, contoh بِهِمْ ، عَلَيْهِمْ    namun jikalau kita lafalkan   بِهِمْ   maka itu bukan kasrah shahihah, seandainya kita panjangkan suara kasrah yang tidak shahih tersebut (mencontohkan) maka, apakah akhir dari suara itu adalah suara ya? Bukan, itu bukan suara ya, tapi suara vocal yang lain, namun apabila kita ucapkan  بِهِمْ (mencontohkan suara kasrah yang benar) inilah kasrah yang benar. Demikianlah caranya kita menguji suara harakat yang benar dan suara harakat yang salah.

Berikut contoh-contoh melafalkan beberapa kalimat berharakat yang shahihah

كَتَبَ اللهُ ، لَكُمْ  ، تُبْـتُمْ  ، عَلَيـْهِمْ  ، بِهْ  ، الْمُسْتَقِيم

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ ، قِبْلَةً  ، إِبْرَاهِيم

 

 

 

Demikianlah pelajaran kita pada kesempatan kali ini.

 

Ditulis oleh:

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *