الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, Sahabat Al Qur’an yang semoga Allah Ta’ala muliakan, Alhamdulillah pada pertemuan pekan kemarin kita telah menuntaskan bab mitslain, mutaqaribain dan mutajanisain. Adapun pada pertemuan kali ini, biidznillahi ta’ala kita akan memasuki bab baru, yaitu Pembagian Mad

Penulis rahimahullah berkata:

وَسَمِّ أَوَّلاً طَبِيِعيــــاً وَهُو

وَالَمــدُّ أَصْــلِيٌّ وَفَـــرْعِيٌّ لَهُ

Mad terbagi dua (mad) ashli y dan far’i, dan namakan yang pertama dengan (mad) thabi’i, yaitu  

Penjelasan:

Menurut bahasa, mad adalah ziyadah yang artinya menambah, Adapun menurut istilah mad adalah

إِطَالَةُ الصَّوْتِ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوفِ الْمَدِّ وَاللِّينِ أَوْ بِحَرْفٍ مِنْ حَرْفِ اللِّينِ فَقَط

 “Memanjangkan suara dengan salah satu dari huruf mad  dan lin atau dengan salah satu huruf lin saja.”[1]

Dan mad ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Mad Thabi’i
  2. Mad Far’i

Kemudian penulis rahimahullah berkata:

وَلا بِدُونـِهِ الحُرُوفُ تُجْتَلَــبْ

مَـا لا تَوَقُّــفٌ لَـهُ عَلَــى سَبَبْ

Mad thabi’i itu tidak bergantung kepada sebab, dan tanpanya huruf-huruf itu tidak ada (tidak terbentuk kecuali dengan keberadaannya)

Bait diatas mengisyaratkan pengertian dari mad thabi’i, sebagaimana pengertian secara istilah bagi mad ta’bi’i tersebut, yaitu

هُوَ الَّذِي لَا يَتَوَقَّفُ عَلَى سَبَبٍ كَهَمْزٍ أَوْ سُكُونٍ

 “Yang  tidak berdiri sendiri (terjadi) diatas sebab tertentu seperti hamzah atau sukun[2]

Kemudian penulis rahimahullah berkata:

جَا بَعْدَ مَـدٍّ فَالطَّبِيِعِيَّ يَكــُونْ

بَــلْ أَيُّ حَرْفٍ غَيْرِ هَمْزٍ أَوْ سُكُونْ

Tetapi huruf apa saja selain hamzah dan sukun, yang datang setelah huruf mad (alif, waw, dan ya) maka ia adalah mad Thabi’i

Mad thabi’i  tidak bergantung pada sebab, maksudnya tidak berdiri (terjadi) di atas sebab tertentu seperti hamzah atau sukun, sebagaimana keadaan pada mad far’i, akan tetapi mad thabi’I terbentuk dengan adanya huruf-huruf mad

Kemudian penulis rahimahullah berkata:

سَبَبْ كَهَمْـزٍ أَوْ سُكُونٍ مُسْجَلاَ

والآخَـرُ الفَـــرْعِيُّ مَوْقُوفٌ عَلَي

adapun (yang kedua dari pembagian mad)adalah mad far’i berdiri diatas sebab, seperti hamzah atau sukun secara mutlaq

Penjelasan:

Menurut istilah mad  far’i adalah

إِطَالَةُ حَرْفِ الْمَدِّ عَنْ مِقْدَارِهِ الطَّبِيعِيِّ لِسَبَبٍ مِنْ هَمْزٍ أَوْ سُكُونٍ

“Memanjangkan (bacaan) huruf mad lebih dari kadar Panjang mad thabi’iy karena bertemu hamzah atau sukun.” Pembahasan mad far’I ini akan kita bahas secara rinci pada bab hukum-hukum mad, in Syaa Allah

Kemudian penulis rahimahullah berkata:

مِنْ لَفْظِ وَايٍ وَهْـيَ فِي نُوحِيهَا

حُــرُوفُهُ ثَـــلاثَةٌ فَعِيــــهَا

huruf-hurufnya ada 3 maka fahamilah, dari lafadz wau, alif, ya.  ada pada  نُوحِيهَا  

Maksud dari bait diatas  bahwa Jumlah huruf mad ada tiga yaitu : Alif, ya dan wa, yang  semua huruf mad tersebut terkumpul dalam ungkapan  نُوحِيهَا 

Hal ini sebagaimana firman Allah QS. Hud : 49

تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهَآ إِلَيۡكَۖ …

 

Kemudian penulis rahimahullah berkata:

شَرْطٌ وَفَتْحٌ قَبْلَ أَلْـف يُلْتَــزَمْ

وَالكَســْرُ قَيْلَ اليَا وَقَبْلَ الوَاوِ ضَمْ

Kasrah sebelum ya, dan sebelum wau dhamman, dan fathah sebelum alif merupakan syarat (keharusan) 

Pada bait ini penulis mengisyaratkan tentang  syarat-syarat mad. Dan mad syaratnya  ada 3, yaitu:

  1. Fathah sebelum alif, seperti : قَالَ
  2. Kasrah sebelum ya sukun, seperti: قِيلَ
  3. Dhammah sebelum wau sukun , seperti: يَقُولُ

Mad ashliy dikenal pula dengan istilah mad dzati atau mad thabi’iy. Dikenal mad dzati karena dzat huruf tidaklah tegak kecuali dengannya. Adapun mad thabi’iy karena orang yang memiliki tabiat yang lurus ( dalam Bahasa arab) tidak mungkin akan mengurangi atau menambah bacaan Panjang dari ketetapannya.[3]

Tempo pengucapan mad

Tempo pengucapan mad ashliy adalah 2 harakat, dan dari sisi keadannya cara membaca mad thabi’I ada tiga macam, yaitu:

  • Tetap dibaca Ketika washal dan waqaf
  • Dibaca Ketika waqaf
  • Dibaca Ketika washal namun tidak dibaca Ketika waqaf

Contoh

Tetap dibaca Ketika washal dan waqaf

يُوصِيكُمُ

يُنَادُونَكَ

 

Dibaca Ketika waqaf

قُلِ ادْعُوا اللهَ

الظُّنُونَا

حَسِيبًا

 

Dibaca Ketika washal namun tidak dibaca Ketika waqaf

الْمُحْسِنِينَ

إِنَّهُ هُوَ

 

Kemudian penulis rahimahullah berkata:

إِنْ انفِتَاحٌ قَبْلَ كُــــلٍّ أُعْلِنَا

وَاللِّيْــنُ مِنْــهَا اليَا وَوَاوٌ سَكَنَا

Lin darinya itu huruf ya dan wau sukun, dengan fathah sebelum keduanya yang diumumkan (diterangkan)

Menurut Bahasa, lin adalah As Suhulah (mudah) adapun menurut istilah adalah

صِفَةٌ أُطْلِقَتْ عَلَى الوَاوِ وَ الْيَاءِ السَّاكِنَتَيْنِ ، الْمَفْتُوحُ مَا قَبْلَهُمَا بِسَبَبِ سُهُولَتِهَا فِي الْمَخْرَجِ

“Sifat yang dimutlakkan untuk huruf wau sukun dan ya sukun yang sebelumnya berharakat fathah sebab kemudahannya (tidak berat) pada makhraj.”[4]

Jumlah huruf lin ada 2, yaitu :

و ، ي

Contoh

خَوْفٌ

يَوْمِ

و

الصَّيْفِ

قُرَيْشٍ

ي

 

Demikian penjelasan singkat berkaitan dengan bab jenis-jenis mad yang ada pada matan Tuhfatul Athfal

 

 

 

SOAL LATIHAN

PEMBAGIAN MAD

PERTANYAAN

 

  1. “Yang tidak berdiri sendiri (terjadi) diatas sebab tertentu seperti hamzah atau sukun” Merupakan definisi dari …….

a. Mad

b. Mad Thabi’i

c. Mad Far’i

d. Mad Lin

 

  1. Tempo pengucapan mad Thabi’i adalah …..

a. 2 harakat

b. 4 harakat

c. 5 harakat

d. 6 harakat

 

  1. خَوْفٌ contoh disamping merupakan contoh mad …….

a. Mad Thabi’i

b. Mad Far’i

c. Mad Lin s

d. Mad Badal

 

Kunci Jawaban :

No. 1 : b

No. 2 : a

No. 3 : c

 

 

 

[1] Hidayatul Qari (hal. 280) dan Tajwid lengkap (hal. 304)

[2] Dirasatul ‘Ilmi Tajwid lil Mutaqaddimin (hal. 126) & Tajwid Lengkap (hal. 312)

[3] Hidayatul Qari (I/269/270) & Tajwid Lengkap (hal.312)

[4] Hilyatut Tilawah (hal. 146)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here