بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Para santri sekalian yang semoga Allah I muliakan, pada sesi kedua pembahasan sifat huruf yang memiliki lawan kali ini, in Syaa Allah biidznillahi Ta’ala kita akan menuntaskan 4 sifat lagi yang  tesisa yaitu sifat Isti’la >< Istifal dan sifat Ithbaq >< Infitah

 

 

Sifat Isti’la >< Istifal

Isti’la

Istifal

Menurut Bahasa, isti’la adalah al ‘uluww wal irtifa (tinggi & terangkat). Adapun menurut istilah adalah:

تَصَعُّدُ الصَّوْتِ إِلَى الْحَنَكِ الْأَعْلَ عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ الْمُسْتَعْلِي

“Naiknya suara ke langit-langit atas Ketika mengucapkan huruf-huruf isti’la”.[1]

Jadi ciri dari sifat ini adalah

1.       Terangkatnya lidah ke langit-langit Ketika mengucapkan huruf-huruf isti’la

Dan jumlah hurufnya ada 7 yaitu: dirangkai menjadi

خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ

Contoh:

Lawan dari Isti’la adalah Istifal. Menurut Bahasa Istifal adalah al inkhifadh atau merendah. Adapun menurut istilah adalah:

عَدَمُ تَصَعُّدِ الصَّوْتِ إِلَى الْحَنَكِ الأَعْلَى عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ الْمُسْتَفِلِ

“Tidak naiknya suara ke langit-langit atas Ketika mengucapkan huruf-huruf istifal”.[2]

Sifat ini berlawanan dengan sifat Isti’la yaitu:

1.       Terhamparnya lidah Ketika mengucapkan huruf-huruf istifal

Dan hurufnya adalah sisa huruf-huruf isti’la, yang jumlahnya ada 22

 

 

Contoh:

أَخْ   أَصْ   أَضْ   أَغْ   أَطْ   أَقْ   أَظْ

 

أَأْ  أَتْ  أَجْ   أَسْ

Berharakat Fathah setelahnya alif

Berharakat Fathah

ظَالِمٌ

قَالُوا

غَالِبٌ

خَالِدٌ

سَقَرٍ

جَاءَ

تَابَا

أَمَرَ

Berharakat Fathah tanpa alif

Berharakat Dhammah

ظَلَمُوا

قَدِيرٌ

غَلَبَتْ

خَتَمَ

سُبَاتًا

جُنُودٌ

تُرَابًا

أُمِرُ

Berharakat Dhammah

Berharakat Kasrah

ظُلُمَاتٍ

قُلْنَا

غُلِبَتِ

خُذُوا

مُرْسِلُو

جِئْتُمْ

يَتِيْمًا

إِحْدَاهُمَا

Berharakat  Sukun

Berharakat Sukun

أَظْلَمُ

شِقْوَتُنَا

مَغْلُولَةٌ

وَاخْتَارَ

مُسْرِفِيْنَ

حِجْرًا

تُتْلَى

يُؤْمِنُونَ

Berharakat Kasrah

ظِلًّا

قِيَامًا

غِشَاوَةٌ

خِلْفَةً

Sifat Ithbaq >< Infitah

Ithbaq

Infitah

Menurut Bahasa, Itbaq adalah al ilshaq (menempel). Adapun menurut istilah adalah

اِنْحِصَارُ الصَّوْتِ بَيْنَ اللِّسَانِ وَالْحَنَكِ الْأَعْلَى عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ الْمُطْبَقِ

“Terkumpulnya suara antara lidah dan langit-langit Ketika pengucapan huruf itbaq.”[3]

Sifat itbaq ini lebih khusus dari sifat isti’la, karena selain terangkatnya lidah ke langit langit, huruf-huruf yang memiliki sifat ithbaq ini juga terkumpul suaranya diantara lidah dan langit-langit

Dan hurufnya ada 4 :

ص ض ط ظ

Lawan dari ithbaq adalah infitah, dan secara bahasa, infitah adalah al iftiraq (tepisah atau terbuka) Adapun menurut istilah adalah

عَدَمُ انْحِصَارِ الصَّوْتِ بَيْنَ اللِّسَانِ وَ الْحَنَكِ الأَعْلَى عِنْدَ النُّطْقِ بِالْحَرْفِ الْمُنْفَتِحِ

“Tidak terkumpulnya suara antara lidah dan langit-langit Ketika pengucapan huruf istifal.[4]

 

Dan hurufnya ada 25 yakni sisa dari huruf ithbaq[5]

 

 

أَصْ أَضْ أَطْ أَظْ

أَدْ   أَفْ   أَكْ   أَوْ

Berharakat Fathah

Berharakat Fathah

ظَلِيْلًا

بَطَرًا

ضَلاَلاً

صَبْرًا

وَبِيْلَا

يُكَذِّبُونُ

فَافْعَلُوا

دَاخِرِيْنَ

Berharakat Dhammah

Berharakat Dhammah

ظُلُمَاتٍ

طُغْيَانًا

بَعْضُكُمْ

صُحُفًا

وَوُفِّيَتْ

كُتِبَ

وَفُتِحَتْ

لِيَعْبُدُوا

Berharakat Kasrah

Berharakat Kasrah

عَظِيمٌ

طِبْتُمْ

ضِدًّا

صِنْوَانٌ

وِفَاقًا

كِذَّابًا

فِرْعَوُنَ

كَيْدِي

Berharakat Sukun

Berharakat Sukun

أَظْلَمُ

أَفَتَطْمَعُونَ

فَضْلُ الله

أَصْحَابُ

فَوْقَهُمْ

بُكْرَةً

مُفْتَرِينَ

تَدْمِيرًا

Sebagai penutup, untuk memudahkan dalam mengingat apa-apa yang telah dipaparkan, berikut adalah perbedaan mendasar dari sifat-sifat yang memiliki lawan[6]

  1. Dari segi mengalir dan tertahannya nafas, ada sifat hams dan sifat jahr
  2. Dari segi tertahan dan tidak tertahannya suara, ada sifat syiddah dan sifat rakhawah
  3. Dari segi terangkat dan terhamparnya lidah, ada sifat isti’la dan istifal
  4. Dari segi terkumpul atau tidaknya suara antara lidah dengan langit-langit ada sifat ithbaq dan infitah

Demikian disampaikan.

Ditulis oleh,

 

Cecep Mulya Berliana (Abu Fauzan)

 

[1] Dirasatul Makharij was shifat (hal. 154)

[2] Hilyatut Tilawah (hal. 131)

[3] Hilyatut Tilawah (hal. 133)

[4] Idem

[5] Sebagian penulis kitab tajwid mengatakan ada 27, dengan menambahkan wau dan ya mad.

[6] Tajwid lengkap Asy Syafi’I (hal 170)

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *