بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, setelah kemarin kita membahas huruf-huruf yang dibaca tafkhim pada sebagian keadaan dan dibaca tarqiq pada sebagian keadaan yang lainnya, in Syaa Allah pada pertemuan ini kita akan bahas materi akhir dari bab tafkhim & tarqiq, yaitu mengenai keadaan-keadaan huruf ra

Ra ada 3 keadaan[1], yaitu huruf ra tafkhim, huruf ra tarqiq, dan huruf ra yang boleh dibaca tafkhim atau tarqiq.

 

Huruf Ra Tafkhim

Ra yang dibaca tafkhim (tebal) ada pada 8 keadaan, yaitu:

Pertama, huruf ra yang berharakat fathah

رَغَدًا

مَرَضًا

رَبَّنَا

 

Kedua, huruf ra sukun yang sebelumnya huruf berharakat fathah

أَرْبَعِينَ

مَرْيَمَ

يَرْفَعُ

 

Ketiga, huruf ra yang dibaca sukun (karena waqaf) yang sebelumnya huruf yang bertanda sukun selain huruf ya dan huruf sebelum sukun itu huruf yang berharakat fathah

إِنَّ الأَمْرُ

وَالْعَصْرِ

الْحَشْرُ

 

Keempat, huruf ra yang berharakat dhammah

رُزِقُوا

يُبْصِرُون

نَصْرُ اللهِ

 

Kelima, huruf ra sukun yang sebelumnya huruf yang berharakat dhammah

وَقُرْءَانًا

زُرْتُمْ

فَمَن يَكْفُر

 

Keenam, huruf ra yang dibaca sukun (karena waqaf) yang sebelumnya huruf yang bertanda sukun yang didahului huruf yang berharakat dhammah

وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

خُسْرٍ

حُوْرٌ

 

Ketujuh, huruf ra sukun yang sebelumnya huruf hamzah washal

وَارْكَعُوا

الَّذِي ارْ تَضَى

أَمِ ارْتَابُوا

 

Kedelapan, huruf ra sukun yang sebelumnya huruf yang berharakat kasrah dan setelahnya huruf isti’la yang tidak berharakat kasrah

Contoh ini hanya ada pada 5 tempat dalam Al Qur’an yaitu

 لَبِالْمِرْصَادِ

قِرْطَاسٌ

فِرْقَةٌ

مِرْصَادًا

وَإِرْصَادًا

 

Huruf Ra Tarqiq

Huruf ra yang dibaca tarqiq (tipis) ada pada 4 keadaan, yaitu:

Pertama, huruf ra yang berharakat kasrah

وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ

مَرِيئًا

رِجَالٌ

 

Kedua, huruf ra sukun yang sebelumnya berharakat kasrah dan setelahnya bukan huruf isti’la

فِرْعَوُنُ

لَشِرْذِمَةٌ

شِرْعَةً

 

Ketiga, huruf ra sukun yang sebelumnya huruf bertanda sukun yang bukan huruf isti’la dan huruf sebelum sukun itu huruf yang berharakat kasrah.

الشِّعْرَ

السِّحْرَ

الذِّكْرَ

 

Keempat, huruf ra sukun yang sebelumnya huruf ya sukun

لَا ضَيْرَ

ذَلِكَ خَيْرٌ

وَالْحَمِيرَ

 

Ra yang boleh dibaca Tafkhim atau Tarqiq

Ra sukun yang ada ditengah kata setelah huruf yang berharakat kasrah asli, dan setelahnya huruf isti’la berharakat kasrah, yaitu lafadz ( فِرۡقٖ   ). Lafadz ini dalam Al Qur’an hanya ada pada satu ayat, yaitu surat Asy Syu’ara : 63

… فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ

                Alasan mereka (para ulama tajwid) yang mentarqiqkannya adalah melihat kepada kasrah sebelum huruf ra sukun, tanpa melihat kepada huruf isti’la yang ada setelah huruf ra. Karena huruf isti’la ini berharakat kasrah, dan harakat kasrah menjadikannya pada posisi yang lemah dari derajat tafkhim. Oleh karena itu, tarqiq lebih sesuai dalam keadaan demikian.

Sedangkan alasan mereka yang mentafkhimkannya adalah melihat kepada huruf isti’la yang ada setelah ra sukun, tanpa melihat harakat kasrah yang ada sebelumnya atau kasrah yang ada pada huruf isti’la tersebut. Inilah pendapat yang dipilih Imam Ibnul Jazari dalam kitabnya an-Nasyr.[2]

 

Demikian akhir dari pembahasan tafkhim & tarqiq

 

SOAL LATIHAN

TAFKHIM & TARQIQ (3)

PERTANYAAN

  1. Ra yang dibaca tafkhim (tebal) ada pada …….. keadaan

a. 6

b. 7

c. 8

d. 9

 

  1. Contoh ayat untuk huruf ra tafkhim yang dibaca sukun (karena waqaf) yang sebelumnya huruf yang bertanda sukun selain huruf ya dan huruf sebelum sukun itu huruf yang berharakat fathah adalah…….

يُبْصِرُون

 وَالْحَمِيرَ

الذِّكْرَ

وَالْعَصْرِ

 

  1. Contoh ayat untuk huruf ra sukun (karena waqaf) tarqiq yang sebelumnya huruf bertanda sukun yang bukan huruf isti’la dan huruf sebelum sukun itu huruf yang berharakat kasrah.

وَالْعَصْرِ

الذِّكْرَ

الْحَشْرُ

يُبْصِرُون

 

 

Kunci Jawaban : No. 1 : c, No. 2 : d, No. 3 :  b

 

 

[1] Lihat Hilyatut Tilawah (hal. 243-247)

[2] Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 205), Lihat Ghayatul Murid fi Ilmit Tajwid (hal. 164)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here