بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Ikhwanil Kiram, sebagaimana yang telah saya sampaikan diakhir pembahasan sifat huruf yang tidak memiliki lawan terkhusus diakhir pembahasan sifat ghunnah terkait tingkatan dan durasi/tempo ghunnah, pada kesempatan ini, bi idznillahi ta’ala kita akan mencoba untuk mempelajarinya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ghunnah adalah

صَوْتٌ يَخْرُجُ مِنَ الْخَيْشُومِ ، وَتَكُونُ تَابِعَةً لِلنُّونِ وَالْمِيمِ

“Suara yang keluar dari rongga hidung, yang menyertai huruf nun dan mim.”[1]

Ghunnah memiliki empat tingkatan, yaitu tingkatan yang paling sempurna, sempurna, kurang, dan sangat kurang.

Pertama, ghunnah yang paling sempurna. Tingkatan ini ada pada nun dan mim bertasydid dan yang bersifat idgham seperti:

خَيْرًا يَرَهُ

كَم مِّن فِئَةٍ

مِن مَّالٍ

مُحَمَّدٌ

النُّذُرُ

 

Kedua, ghunnah yang sempurna. Tingkatan ini lebih pendek sedikit dari tingkatan diatas, yaitu pada nun dan mim yang bersifat ikhfa. Seperti:

هُم بَارِزُونَ

مِن بَعْدِ

وَلَمَن صَبَرَ

مَنثُورًا

 

Ketiga, ghunnah yang kurang. Tingkatan ini ada pada nun dan mim sukun yang bersifat idzhar

الْحَمْدُ

أَنْعَمْتَ

 

Keempat, ghunnah yang sangat kurang, Tingkatan ini ada pada nun dan mim yang berharakat. Seperti:

اَلْغَمَامَ

ثَمَنَا

 

Ikhwanil Kiram, sebagian ulama qiraah membatasi tempo atau Panjang ghunnah dengan 2 harakat.[2] Dan seseorang yang pertama kali berpendapat demikian adalah Al Mar’asyi Sajaqli Zadah (wafat 1145 H) sedangkan dia mengakui bahwa tidak pernah melihat tulisan ulama sebelumnya yang menentukan tempo ghunnah sepanjang dua harakat. Akan tetapi setelah pengakuannya tentang hal tersebut beliau berkata:

لَكِنْ لَمْ يَصِلْ اِمْتِدَادُهَا إِلَى قَدْرِ أَلِفٍ أَوْ أَزْيَدَ

“Namun, panjangnya tidak lebih dari satu alif (2 harakat)”

Dari sinilah muncul pendapat bahwa ghunnah itu dipanjangkan 2 harakat, sehingga orang-orang yang datang setelahnya dari kalangan mu’ashirin (ulama kontemporer) berpendapat bahwa ghunnah itu sepanjang 2 harakat.

Syaikh Prof. Farghali Sayyid Arbawi menyatakan: “Penentuan atas perkiraan tempo ghunnah harus ditinjau Kembali, dan tidak ada dalil (ket) tentangnya dari tulisan-tulisan terdahulu. Aku tidak melihat dalam kitab-kitab ulama terdahulu pendapat yang menegaskan bahwa ghunnah panjangnya 2 harakat.[3]

Asy Syaikhah Kautsar Al Khauli Hafidzahallah dalam kitabnya, Sirajul Bahitsin ‘an Muntahal Itqan fi Tajwidil Qur’an, berkata “Sesungguhnya perkiraan tempo ghunnah secara global dengan 2 harakat adalah tidak benar. Sebab hukum nun dan mim sukun seperti idzhar, idgham, atau ikhfa mempengaruhi dua bagian makhraj yaitu bagian al lisan dan asy syafatain dari satu sisi serta bagian al khaisyum dari sisi lain. Hal ini ditambah dengan keterangan bahwa huruf nun tidak ada hubungannya dengan makhraj al jauf yang huruf-hurufnya dapat diukur dengan harakat, sedangkan ghunnah itu bukan huruf yang bisa di qiyaskan temponya dengan harakat.”[4]

Dalam masalah ini saya mengambil pendapat yang menyatakan bahwa ghunnah tidak diukur dengan 2 harakat, karena tidak dijumpai dari para ulama tajwid terdahulu yang berpendapat demikian

Demikian penjelasan singkat terkait dengan tingkatan dan tempo ghunnah ini disampaikan.

SOAL LATIHAN

TINGKATAN GHUNNAH

PERTANYAAN

  1. Tingkatan ini ada pada nun dan mim bertasydid serta yang bersifat idgham, keterangan diatas menunjukkan tingkatan ghunnah yang …

a. Pertama

b. Kedua

c. Ketiga

d. Keempat

 

  1. Mim pada contoh berikut اَلْغَمَامَ  dibaca dengan ghunnah yang sangat kurang karena mim tersebut dalam keadaan …

a. Sukun

b. Berharakat

c. Bertasydid

d. Bermad

 

  1. Nun sukun pada contoh berikut يُنْفَخُ  dibaca dengan ghunnah yang sedikit lebih pendek dari ghunnah yang paling sempurna disebabkan karena …

a. Idzhar

b. Iqlab

c. Ikhfa

d. Idgham

 

  1. Mim sukun pada contoh berikut كَم مِّن فِئَةٍ dibaca dengan ghunnah …

a. Paling sempurna

b. Sempurna

c. Kurang

d. Sangat kurang

 

  1. Ghunnah memiliki … tingkatan

a. 1

b. 2

c. 3

d. 4

 

Kunci Jawaban : No. 1 : a, No. 2 : b, No. 3 :  c, No. 4 : a, No. 5 : d

 

[1] Hilyatut Tilawah (hal. 149)

[2] Lihat Makhtuthat Juhdul Muqil lembar ke 31 & Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 185)

[3] Lihat Tahqiq ad-Daqaiq  Al Muhkamah (hal. 214) & Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 186)

[4] Lihat Sirajul Bahitsin (I/66) & Tajwid Lengkap Asy Syafi’I (hal. 186)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here